Semangat yang sama juga terlihat di Kiputih Dalam, RW 05 Kelurahan Ciumbuleuit Kecamatan Cidadap, Kota Bandung. Ketua Peringatan Hari Besar Islam DKM RW 05, Very Kurniawan menyebut bahwa kegiatan menyambut tahun baru Islam bertujuan mengingatkan masyarakat, khususnya anak-anak, mengenai makna pergantian tahun dalam kalender Hijriah.
Menurutnya, banyak masyarakat yang lebih mengenal perayaan Tahun Baru Masehi dibandingkan Tahun Baru Islam yang bermula dari persitiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. "Visinya hanya ingin mengingatkan kepada anak-anak bahwa tahun baru kita adalah Tahun Baru Islam, 1 Muharam,"
" Selamat menyambut Tahun Baru Islam 1447 Hijriyah "
===================================
Berikut Rangkuman peristiwa-peristiwa penting Hari Asyura dan Pertempuran Karbala, sebagaimana dibahas oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja.Memahami peristiwa-peristiwa ini penting untuk menghargai dampaknya terhadap sejarah Islam dan pelajaran yang mereka berikan tentang keimanan, pengorbanan, dan kepemimpinan dalam Islam.
===================================
Konteks Karbala
Karbala adalah peristiwa penting yang terjadi pada tanggal 10 Muharram tahun 680 M (61 H).
Peristiwa ini melibatkan Imam Husain, cucu Nabi Muhammad, dan para pengikutnya melawan pasukan Yazid bin Muawiyah.
Konteksnya muncul setelah kematian Muawiyah, ketika Yazid berusaha untuk mengonsolidasikan kekuasaan, yang menyebabkan pertentangan dari mereka yang setia kepada Ali dan Husain.
Panggilan untuk Bertindak
Orang-orang Kufah, yang sebagian besar adalah pendukung Ali, menghubungi Imam Husain, mengundangnya untuk memimpin mereka melawan Yazid.
Mereka berjanji setia kepadanya, dengan bersikeras bahwa mereka tidak menginginkan Yazid sebagai pemimpin mereka.
Meskipun ada peringatan dari para sahabat seperti Ibnu Abbas, yang mendesak agar berhati-hati karena nasib ayahnya, Ali, Imam Husain memutuskan untuk mengindahkan panggilan tersebut.
Keputusan Imam Husain
Husain melakukan istikharah (doa untuk petunjuk) dan memutuskan untuk pergi ke Kufah.
Dia pergi bersama sekelompok kecil keluarga dan pendukungnya, dengan keyakinan bahwa dia dapat menginspirasi gerakan melawan tirani.
Kesalahan komunikasi dan pengkhianatan akhirnya menyebabkan tragedi di Karbala.
Peristiwa Penting Pertempuran
Pada hari Ashura, Husain dan para pengikutnya menghadapi pasukan Yazid.
Mereka terputus dari pasokan air, dan mengalami kehausan yang luar biasa.
Meskipun kalah jumlah, Husain dan para sahabatnya bertempur dengan gagah berani, menunjukkan keberanian dan komitmen yang luar biasa terhadap prinsip-prinsip mereka.
Akibat Karbala
Kematian Husain dan para pengikutnya menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan.
Peristiwa ini diperingati setiap tahun selama Muharram, khususnya pada Hari Asyura, oleh jutaan umat Muslim.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan nilai-nilai keadilan, pengorbanan, dan keteguhan dalam keyakinan seseorang, bahkan saat menghadapi rintangan yang sangat besar.
Karbala memberikan pelajaran yang mendalam tentang kepemimpinan, pengorbanan, dan kewajiban moral untuk melawan ketidakadilan.Memahami
sejarah ini sangat penting untuk menumbuhkan apresiasi yang lebih dalam
terhadap warisan Islam dan relevansi warisan Husain yang berkelanjutan.Memperingati Hari Asyura juga dapat menjadi waktu untuk refleksi dan komitmen untuk menegakkan keadilan dalam kehidupan kita.
Mari Simak selengkapnya PERISTIWA KARBALA 10 MUHARRAM, Video Nasehat Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA #firandaandirja #firandaterbaru #nasehat #sunnah Riwayat Shahih Tentang Peristiwa Karbala
Kegiatan pawai obor umumnya diharapkan dapat mencapai beberapa tujuan
dan memberikan berbagai manfaat bagi peserta, penyelenggara, dan
masyarakat secara umum.
Memperkuat Identitas Budaya dan Kebanggaan Komunitas: Pawai obor sering kali menjadi sarana untuk mempertahankan dan merayakan identitas budaya suatu komunitas atau kelompok. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat merasa lebih bangga dan terhubung dengan warisan budaya mereka. Menggalang Kebajikan dan Solidaritas Sosial: Beberapa pawai obor diadakan sebagai kegiatan amal untuk menggalang dana bagi kegiatan sosial atau membantu mereka yang membutuhkan. Ini mencerminkan nilai-nilai solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama dalam komunitas. Meningkatkan Keterlibatan dan Partisipasi Masyarakat: Acara pawai obor dapat menjadi kesempatan untuk melibatkan lebih banyak warga dalam kegiatan komunitas. Partisipasi aktif dalam acara semacam ini dapat memperkuat jalinan sosial antarwarga dan meningkatkan rasa kepemilikan terhadap kegiatan bersama. Pendidikan dan Penyadaran Publik: Pawai obor juga bisa menjadi platform untuk menyampaikan pesan-pesan penting, baik itu terkait dengan kebudayaan, agama, lingkungan, atau isu-isu sosial. Melalui pawai obor, informasi atau nilai-nilai tertentu dapat disebarkan kepada masyarakat dengan cara yang menarik dan menantang. Peningkatan Pariwisata dan Pengembangan Ekonomi Lokal: Di beberapa tempat, pawai obor dapat menjadi daya tarik pariwisata yang signifikan. Kehadiran wisatawan dapat memberikan dampak ekonomi positif bagi lokalitas yang menyelenggarakan acara ini, seperti peningkatan kunjungan wisata dan pengembangan industri pariwisata. Menghibur dan Mencerahkan Masyarakat: Terakhir, pawai obor juga diharapkan dapat memberikan hiburan dan kesenangan bagi masyarakat. Dengan menampilkan berbagai atraksi, musik, dan tarian, kegiatan ini dapat menjadi momen menyenangkan untuk mengumpulkan orang-orang dan merayakan bersama.
Harapan-harapan ini mencerminkan berbagai tujuan yang dapat dikejar oleh penyelenggara dan peserta pawai obor, dengan tujuan akhir untuk memperkuat komunitas, mempromosikan nilai-nilai positif, dan merayakan keberagaman budaya serta tradisi lokal.
“Puasa yang paling afdhal/puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram.” (HR. Muslim)
Ketika penulis kitab ini Rahimahullah berbicara tentang keutamaan-keutamaan puasa secara umum, beliau memulai dengan menyebutkan keutamaan puasa sunnah dan keutamaan puasa-puasa tersebut bertingkat-tingkat. Karena puasa puasa tersebut keutamanya tidak sama, akan tetapi sebagian lebih utama/lebih afdhal daripada sebagian yang lain.
Dan puasa yang paling besar keutamanya adalah puasa Ramadhan. Karena tidak seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang lebih dicintai oleh Allah melebihi apa yang Allah wajibkan kepada mereka.
Sebagaimana dalam hadits qudsi dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata menceritakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata:
“Dan tidaklah hambaKu mendekat kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan atasnya, dan hambaKu senantiasa mendekat kepadaKu dengan ibadah-ibadah sunnah sampai Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)
Dan puasa An-Nafl adalah puasa sunnah/puasa tathawwu’, yaitu puasa yang tidak wajib. Banyak sekali jenis-jenis puasa yang tidak wajib tersebut. Diantaranya ada yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam setiap minggu, juga ada puasa yang disunnahkan pada hari-hari tertentu dalam setiap tahun.
Namun kedudukan atau nilai keutamaan puasa-puasa sunnah tersebut berbeda-beda. Sebagian lebih afdhal dari sebagian yang lain. Dan penulis kitab ini memulai dengan keutamaan puasa bulan Muharram. Dan beliau menyebutkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu yang mana dalam hadits tersebut dijelaskan bahwasannya puasa pada bulan Allah Muharram adalah puasa sunnah yang paling afdhal. Sebagaimana shalat malam adalah shalat yang paling utama setelah shalat wajib.
Mari Simak selengkapnya penjelasan mengenai TentangKeutamaan Puasa Asyura, Muharram dan Ramadhan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr :
Penulis kitab ini Rahimahullah menyebutkan hadits yang berkenaan dengan keutamaan puasa 6 hari dibulan Syawal. Dan hadits ini adalah hadits yang shahih, benar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tidak perlu kita menoleh kepada orang-orang yang meragukan kebenaran hadits ini. Karena hadits ini adalah hadits yang shahih (benar) tentang keutamaan puasa 6 hari dibulan Syawal dan tidak disyaratkan 6 hari ini dilakukan secara terus-menerus. Akan tetapi boleh dipisah. Bisa dilakukan di awal Syawal atau di pertengahan Syawal atau di akhir Syawal, maka tidak mengapa. Yang penting puasa 6 hari tersebut semuanya di bulan Syawal.
Nabi kita ‘Alaihish Shalatu was Salam menyebutkan pahala yang besar ini dengan mengatakan:
“Barangsiapa yang puasa Ramadhan kemudian ia mengikutinya dengan puasa 6 hari dibulan Syawal maka seakan-akan ia puasa sepanjang tahun.”
Hal ini dikarenakan satu kebaikan akan ditulis pahala 10 kebaikan dan satu tahun jumlah harinya adalah sebanyak 360 hari. Maka puasa Ramadhan sebanding dengan puasa 300 hari. Karena satu kebaikan dituliskan 10 pahala dan puasa 6 hari dibulan Syawal sebanding dengan puasa 60 hari. Karena satu kebaikan yang dikerjakan maka pahalanya ditulis dengan 10 kebaikan.
Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Maka seakan-akan ia puasa sepanjang tahun.” Karena apabila ada seorang yang setiap tahun ia berpuasa Ramadhan kemudian puasa 6 hari dibulan Syawal maka seakan-akan sepanjang zaman ia berpuasa. Karena satu kebaikan pahalanya adalah 10 kebaikan.
“‘Tidak ada hari-hari yang amal shalih pada hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melebihi 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah’ Maka para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah amal tersebut lebih baik dibandingkan dengan jihad dijalan Allah Ta’ala?’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Amal shalih pada hari-hari tersebut lebih utama daripada berjihad dijalan Allah, kecuali seorang yang keluar berjihad membawa hartanya dan berangkat sendiri berjihad dan tidak kembali lagi.'” (HR. Bukhari)
Penulis kitab ini Rahimahullah menyebutkan hadits yang umum tentang keutamaan amal shalih pada 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah. Dan penyebutan hadits ini dalam bab keutamaan puasa karena diantara bentuk amal shalih yang dianjurkan untuk dikerjakan pada 10 pertama di bulan Dzulhijjah yaitu berpuasa. Karena puasa adalah salah satu amal shalih.
Mari Simak selengkapnya Penjelasan Singkat Keutamaan Puasa Syawal dan Puasa Bulan Dzulhijjah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 29 Shafar 1441 H / 28 Oktober 2019 M.:
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan
banyak kenikmatan demi kenikmatan, segala puji bagi Allah yang telah
banyak menurunkan kepada kita banyak karunia demi karunia. Diantara
karunia yang Allah berikan kepada kita yaitu kita masuk di awal tahun
hijriah di bulan Muharram ini.
Dan Subhanallah, Allah Subhanahu wa
Ta’ala menjadikan awal tahun hijriah itu bulan haram, dan menjadikan
akhir tahun hijriah pun bulan haram. Diawali tahun hijriah dengan bulan
Muharram dan diakhiri dengan bulan Dzulhijjah. Keduanya adalah bulan
haram, seakan memberikan kepada kita sebuah isyarat agar memulai tahun
dengan kebaikan dan mengakhiri tahun dengan kebaikan. Karena bulan-bulan
haram merupakan bulan-bulan kebaikan, Allah berfirman:
“Sesungguhnya jumlah bulan ketika Allah menciptakan langit dan bumi adalah dua belas bulan, di antaranya empat bulan haram.” (QS. At-Taubah[9]: 36)
Kita
memulai tahun ini dengan bulan Muharram, dimana bulan Muharram adalah
bulan yang Allah istimewakan. Diantara keistimewaan bulan Muharram,
Allah menamainya sebagai bulan Allah. Rasulullah bersabda:
شَهْرُ اللَّهِ المُحَرَّمُ
“Bulan Allah Muharram” (HR. Muslim)
Allah
menyebutkan bahwa Muharram itu bulan Allah. Itu menunjukkan betapa
agungnya bulan ini. Bulan Muharram yang Allah haramkan atas kita semua.
Sebagaimana kita sering mendengar penjelasan dari para asatidzah bahwa
di bulan-bulan haram, amalan-amalan keburukan dilipatgandakan menjadi
besar. Karena Allah mengatakan dalam Al-Qur’an:
فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Jangan kalian mendzalimi diri-diri kalian sendiri di bulan-bulan haram tersebut.” (QS. At-Taubah[9]: 36)
Artinya berbuat dzalim di bulan itu akan Allah lipat gandakan, Allah besarkan dosanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Demikian
pula amalan shalih pun dibesarkan pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Diantara amalan yang bisa kita amalkan di bulan Muharram,
saudaraku. Yaitu yang disebut dengan puasa ‘Asyura. Dimana puasa ‘Asyura
kata Rasullullah:
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَة
“Puasa ‘Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
Subhanallah..
betapa agungnya puasa ini. Bahkan di awal-awal Islam, ketika Allah
belum diwajibkan puasa Ramadhan, puasa ‘Asyura itu termasuk puasa yang
diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’al kepada kaum muslimin.
Akan tetapi ketika Allah mewajibkan bulan Ramadhan, Allah menjadikan
puasa ‘Asyura sesuatu yang tidak wajib. Namun Rasullullahmenekankan kita untuk berpuasa di hari itu dan menyebutkan
keutamaannya yang agung sebagaimana kita telah sampaikan tadi.
Maka
dari itulah saudaraku.. Orang-orang yang mengingikan kebaikan,
orang-orang yang menginginkan agar dosanya digugurkan, ini adalah
kesempatan emas untuk kita digugurkan dosa-dosa kita setahun yang lalu.
Mari Simak selengkapnya penjelasan mengenai Tentang Puasa Muharram disampaikan dalam Khutbah Jumat Bulan Muharram Tentang Puasa Muharram oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. :
Setelah kita selesai bulan Ramadhan, kita melaksanakan puasa sebulan
penuh, segera kita pun melaksanakan puasa berikutnya yaitu puasa Syawal
dan amalan-amalan shalih yang lainnya. Dan ini adalah pendapat
kebanyakan para ulama tafsir. Dan dua pendapat tersebut sebetulnya tidak
bertentangan sama sekali. Karena orang yang mencari dunia tiada lain
adalah untuk mencari kehidupan akhirat apabila ia niatkan karena Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
Seseorang yang mencari nafkah, kalau ia tujuannya adalah untuk mencari
nafkah yang Allah wajibkan kepada dia, untuk menafkahi anak dan istrinya
maka itu menjadi pahala di sisi allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang yang
melakukan perbuatan yang sifatnya duniawi, apabila itu memang tujuannya
karena Allah, di jalan Allah dan sesuai dengan syariat Allah, maka itu
bernilai ibadah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Manusia, Allah ciptakan untuk ibadah. Maka kita berusaha untuk berpindah
dari satu ibadah kepada ibadah berikutnya. Apabila kita telah selesai
dalam ibadah mencari nafkah, kita berusaha mencari ibadah yang lainnya.
Yaitu dengan berusaha banyak berdzikir kepada Allah, dengan shalat,
dengan membaca Qur’an dan yang lainnya. Apabila kita telah selesai di
bulan Ramadhan ini, Alhamdulillah. Dengan karunia dari Allah Subhanahu
wa Ta’ala, segera kita bersiap-siap menuju ibadah berikutnya. Yaitu
berpuasa di bulan Syawal. Kemudian setelah Syawal, berikutnya kita akan
menjelang bulan-bulan haram, Dzulhijjah, Dzulqa’dah dan Muharram. Tiga
bulan haram yang sangat mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang
sangat diperintahkan kita untuk banyak berbuat kebaikan di dalamnya.
Mari Simak selengkapnya penjelasan mengenai Istiqomah Beribadah Setelah Ramadhanrekaman khutbah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.: