Live!

Tampilkan postingan dengan label Dzulhijjah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dzulhijjah. Tampilkan semua postingan

🔥 Sangiang Santen Bersholawat & Kirab Obor | 1 Muharram 1448 H


Selamat menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah
 

Memaknai pergantian tahun kalender Hijriah

Semangat yang sama juga terlihat di Kiputih Dalam, RW 05 Kelurahan Ciumbuleuit Kecamatan Cidadap, Kota Bandung. Ketua Peringatan Hari Besar Islam DKM RW 05, Very Kurniawan menyebut bahwa kegiatan menyambut tahun baru Islam bertujuan mengingatkan masyarakat, khususnya anak-anak, mengenai makna pergantian tahun dalam kalender Hijriah.



Baca Juga : Tentang Puasa Muharram

 
Menurutnya, banyak masyarakat yang lebih mengenal perayaan Tahun Baru Masehi dibandingkan Tahun Baru Islam yang bermula dari persitiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.  "Visinya hanya ingin mengingatkan kepada anak-anak bahwa tahun baru kita adalah Tahun Baru Islam, 1 Muharam,"

 

 

Simak selengkapnya >> Tradisi Pawai Obor Tetap Bertahan di Bandung, Kenalkan Generasi Muda pada Tahun Baru Islam




Ber-Qurban lah Raih Berkah & Taqwa ( Idul Adha 1447H ) / 2026M


Bismillahirrahmanirrahim...
Aajarakallahu Fiima Athaita, Wa Baaraka Laka Fiimaa Abqaita, Wajalhu Laka Thohuuro

Semoga Allah memberi pahala atas apa yang diberikan, serta memberikan berkah atas apa yang masih ada di tangan dan menjadikannya sebagai pembersih harta Bapak/Ibu/Sdr/i beserta keluarga.

Aamiin ya Rabbal 'aalamiin 🤲 
 
Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H / 2026 , Taqabbalallahu minna wa minkum
 
 

PERISTIWA KARBALA 10 MUHARRAM

 
PHBI DKM JAMI’ AL-HIKMAH RW.05
KEL. CIUMBULEUIT - KEC. CIDADAP - KOTA BANDUNG

" Selamat menyambut Tahun Baru Islam 1447 Hijriyah "
 
===================================
 
Berikut Rangkuman peristiwa-peristiwa penting Hari Asyura dan Pertempuran Karbala, sebagaimana dibahas oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja. Memahami peristiwa-peristiwa ini penting untuk menghargai dampaknya terhadap sejarah Islam dan pelajaran yang mereka berikan tentang keimanan, pengorbanan, dan kepemimpinan dalam Islam. 
 

=================================== 

 

Konteks Karbala 

Karbala adalah peristiwa penting yang terjadi pada tanggal 10 Muharram tahun 680 M (61 H). Peristiwa ini melibatkan Imam Husain, cucu Nabi Muhammad, dan para pengikutnya melawan pasukan Yazid bin Muawiyah. Konteksnya muncul setelah kematian Muawiyah, ketika Yazid berusaha untuk mengonsolidasikan kekuasaan, yang menyebabkan pertentangan dari mereka yang setia kepada Ali dan Husain. 
 

Panggilan untuk Bertindak 

Orang-orang Kufah, yang sebagian besar adalah pendukung Ali, menghubungi Imam Husain, mengundangnya untuk memimpin mereka melawan Yazid. Mereka berjanji setia kepadanya, dengan bersikeras bahwa mereka tidak menginginkan Yazid sebagai pemimpin mereka. Meskipun ada peringatan dari para sahabat seperti Ibnu Abbas, yang mendesak agar berhati-hati karena nasib ayahnya, Ali, Imam Husain memutuskan untuk mengindahkan panggilan tersebut. 
 

Keputusan Imam Husain 

Husain melakukan istikharah (doa untuk petunjuk) dan memutuskan untuk pergi ke Kufah. Dia pergi bersama sekelompok kecil keluarga dan pendukungnya, dengan keyakinan bahwa dia dapat menginspirasi gerakan melawan tirani. Kesalahan komunikasi dan pengkhianatan akhirnya menyebabkan tragedi di Karbala. 
 

Peristiwa Penting Pertempuran 

Pada hari Ashura, Husain dan para pengikutnya menghadapi pasukan Yazid. Mereka terputus dari pasokan air, dan mengalami kehausan yang luar biasa. Meskipun kalah jumlah, Husain dan para sahabatnya bertempur dengan gagah berani, menunjukkan keberanian dan komitmen yang luar biasa terhadap prinsip-prinsip mereka. 
 

Akibat Karbala 

Kematian Husain dan para pengikutnya menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan. Peristiwa ini diperingati setiap tahun selama Muharram, khususnya pada Hari Asyura, oleh jutaan umat Muslim. Peristiwa ini menjadi pengingat akan nilai-nilai keadilan, pengorbanan, dan keteguhan dalam keyakinan seseorang, bahkan saat menghadapi rintangan yang sangat besar. 
 
 


Baca Juga : Tentang Puasa Muharram

 

Kesimpulan Peristiwa 

Karbala memberikan pelajaran yang mendalam tentang kepemimpinan, pengorbanan, dan kewajiban moral untuk melawan ketidakadilan. Memahami sejarah ini sangat penting untuk menumbuhkan apresiasi yang lebih dalam terhadap warisan Islam dan relevansi warisan Husain yang berkelanjutan. Memperingati Hari Asyura juga dapat menjadi waktu untuk refleksi dan komitmen untuk menegakkan keadilan dalam kehidupan kita. 

 

Mari Simak selengkapnya PERISTIWA KARBALA 10 MUHARRAM, Video Nasehat Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA #firandaandirja #firandaterbaru #nasehat #sunnah
Riwayat Shahih Tentang Peristiwa Karbala

Tujuan Kegiatan Pawai Obor

Kegiatan pawai obor umumnya diharapkan dapat mencapai beberapa tujuan dan memberikan berbagai manfaat bagi peserta, penyelenggara, dan masyarakat secara umum. 





 Memperkuat Identitas Budaya dan Kebanggaan Komunitas: Pawai obor sering kali menjadi sarana untuk mempertahankan dan merayakan identitas budaya suatu komunitas atau kelompok. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat merasa lebih bangga dan terhubung dengan warisan budaya mereka.
 Menggalang Kebajikan dan Solidaritas Sosial: Beberapa pawai obor diadakan sebagai kegiatan amal untuk menggalang dana bagi kegiatan sosial atau membantu mereka yang membutuhkan. Ini mencerminkan nilai-nilai solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama dalam komunitas.
 Meningkatkan Keterlibatan dan Partisipasi Masyarakat: Acara pawai obor dapat menjadi kesempatan untuk melibatkan lebih banyak warga dalam kegiatan komunitas. Partisipasi aktif dalam acara semacam ini dapat memperkuat jalinan sosial antarwarga dan meningkatkan rasa kepemilikan terhadap kegiatan bersama.
 Pendidikan dan Penyadaran Publik: Pawai obor juga bisa menjadi platform untuk menyampaikan pesan-pesan penting, baik itu terkait dengan kebudayaan, agama, lingkungan, atau isu-isu sosial. Melalui pawai obor, informasi atau nilai-nilai tertentu dapat disebarkan kepada masyarakat dengan cara yang menarik dan menantang.
 Peningkatan Pariwisata dan Pengembangan Ekonomi Lokal: Di beberapa tempat, pawai obor dapat menjadi daya tarik pariwisata yang signifikan. Kehadiran wisatawan dapat memberikan dampak ekonomi positif bagi lokalitas yang menyelenggarakan acara ini, seperti peningkatan kunjungan wisata dan pengembangan industri pariwisata.
 Menghibur dan Mencerahkan Masyarakat: Terakhir, pawai obor juga diharapkan dapat memberikan hiburan dan kesenangan bagi masyarakat. Dengan menampilkan berbagai atraksi, musik, dan tarian, kegiatan ini dapat menjadi momen menyenangkan untuk mengumpulkan orang-orang dan merayakan bersama.
 

Harapan-harapan ini mencerminkan berbagai tujuan yang dapat dikejar oleh penyelenggara dan peserta pawai obor, dengan tujuan akhir untuk memperkuat komunitas, mempromosikan nilai-nilai positif, dan merayakan keberagaman budaya serta tradisi lokal.

 

Selamat Tahun Baru Islam 1446H

Meraih Taqwa Melalui Ibadah Qurban ( Idul Adha 1446H )



 


 

InsyaAllah sudah masuk bulan Dzulhijjah. Dengan ditetapkannya awal Dzulhijah ini, maka Hari Raya Idul Adha 1446 H akan berlangsung pada Jum'at, 06 Juni 2025. 

 

Bagi Bapak/Ibu yang sudah berniat menunaikan qurban jangan lupa ada larangan potong rambut dan kuku sejak tanggal 1 hingga nanti hewan qurban di sembelih. Ini hukumnya adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), bila dilanggar tidak termasuk melakukan yang haram, tetapi makruh tanzih. (Al-Mu'tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 2:487)

Memperbanyak Takbir di Hari-Hari Terbaik

Ummatal Islam,

Di hari ini kita berada di hari Idul Adha yang merupakan hari terbaik di dunia. Sebagaimana dikeluarkan Imam Ath-Thobroni dan dihasankan oleh Syaikh Albani Rahimahullah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

افضل ايام الدنيا يوم النحر ويوم القر

“Hari-hari dunia yang paling utama yaitu hari menyembelih (hari ini tanggal 10 bulan Dzulhijjah) dan hari setelahnya (tanggal 11)”

Berarti ini menunjukkan bahwa hari ini adalah hari yang paling paling utama di dunia ini dan kemudian hari setelahnya. Maka 10 hari awal bulan Dzulhijjah yang paling utama adalah di hari ini. Dan kita disyariatkan untuk memperbanyak takbir, membesarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dimana takbir akan terus disyariatkan sampai tanggal 13 bulan Dzulhijjah. Dimana takbir -kata para ulama- dengan ijma’ mereka ada dua macam. Yang pertama disebut dengan takbir mutlak. Yaitu kita bertakbir kapan saja dan dimana saja. Kemudian yang kedua yaitu takbir muqayyad. Yaitu yang terikat setelah selesai shalat.

Adapun takbir mutlak, maka dianjurkan dari tanggal 1 sampai tanggal 13 bulan Dzulhijjah. Adapun takbir muqayyad, maka dianjurkan dari tanggal 9 (yaitu hari Arafah) setelah shalat subuh sampai tanggal 13 bulan Dzulhijjah setelah shalat ashar.

Kita memperbanyak takbir di hari-hari ini, sebagaimana dahulu para sahabat memperbanyak takbir. Bahkan ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun di haji wada’ pun, di hari-hari Mina, mereka memperbanyak takbir. Sehingga Mina bergemuruh dengan takbir. Maka kita pun senantiasa bertakbir membesarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.







Baca Juga : Hikmah Qurban - Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail


Hakikat takbir adalah mengagungkan Allah, membesarkan Allah, bukan hanya sebatas di lisan-lisan kita. Tapi membesarkan Allah dengan hati kita, merasakan akan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengagungkannya seagung-agungnya.


Ketika kita merasakan kebesaran Allah di hati kita, itulah yang akan menimbulkan rasa takut kepada Allah, rasa tunduk kepada Allah, rasa tadharru’ kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang mengagungkan Allah, dia tidak akan berani berbuat maksiat di hadapanNya walaupun dia ketika sendirian. Karena ia tahu bahwasanya Rabbnya senantiasa mengawasinya dimanapun ia berada.


Mari Simak selengkapnya penjelasan mengenai Memperbanyak Takbir di Hari-Hari Terbaik disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.  :



 <<SUMBER

Penjelasan Singkat Keutamaan Puasa Syawal dan Puasa Bulan Dzulhijjah

Dan sahabat Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:


مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang puasa Ramadhan kemudian ia mengikutinya dengan puasa 6 hari dibulan Syawal maka seakan-akan ia puasa sepanjang tahun.”


Penjelasan Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr :

Penulis kitab ini Rahimahullah menyebutkan hadits yang berkenaan dengan keutamaan puasa 6 hari dibulan Syawal. Dan hadits ini adalah hadits yang shahih, benar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tidak perlu kita menoleh kepada orang-orang yang meragukan kebenaran hadits ini. Karena hadits ini adalah hadits yang shahih (benar) tentang keutamaan puasa 6 hari dibulan Syawal dan tidak disyaratkan 6 hari ini dilakukan secara terus-menerus. Akan tetapi boleh dipisah. Bisa dilakukan di awal Syawal atau di pertengahan Syawal atau di akhir Syawal, maka tidak mengapa. Yang penting puasa 6 hari tersebut semuanya di bulan Syawal.


Nabi kita ‘Alaihish Shalatu was Salam menyebutkan pahala yang besar ini dengan mengatakan:


مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang puasa Ramadhan kemudian ia mengikutinya dengan puasa 6 hari dibulan Syawal maka seakan-akan ia puasa sepanjang tahun.”


Hal ini dikarenakan satu kebaikan akan ditulis pahala 10 kebaikan dan satu tahun jumlah harinya adalah sebanyak 360 hari. Maka puasa Ramadhan sebanding dengan puasa 300 hari. Karena satu kebaikan dituliskan 10 pahala dan puasa 6 hari dibulan Syawal sebanding dengan puasa 60 hari. Karena satu kebaikan yang dikerjakan maka pahalanya ditulis dengan 10 kebaikan.


Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Maka seakan-akan ia puasa sepanjang tahun.” Karena apabila ada seorang yang setiap tahun ia berpuasa Ramadhan kemudian puasa 6 hari dibulan Syawal maka seakan-akan sepanjang zaman ia berpuasa. Karena satu kebaikan pahalanya adalah 10 kebaikan.












Baca Juga : Tentang Puasa Muharram


KEUTAMAAN 10 HARI PERTAMA DI BULAN DZULHIJJAH

Sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:


مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ


“‘Tidak ada hari-hari yang amal shalih pada hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melebihi 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah’ Maka para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah amal tersebut lebih baik dibandingkan dengan jihad dijalan Allah Ta’ala?’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Amal shalih pada hari-hari tersebut lebih utama daripada berjihad dijalan Allah, kecuali seorang yang keluar berjihad membawa hartanya dan berangkat sendiri berjihad dan tidak kembali lagi.'” (HR. Bukhari)


Penjelasan Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr :

Penulis kitab ini Rahimahullah menyebutkan hadits yang umum tentang keutamaan amal shalih pada 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah. Dan penyebutan hadits ini dalam bab keutamaan puasa karena diantara bentuk amal shalih yang dianjurkan untuk dikerjakan pada 10 pertama di bulan Dzulhijjah yaitu berpuasa. Karena puasa adalah salah satu amal shalih. 


Mari Simak selengkapnya Penjelasan Singkat Keutamaan Puasa Syawal dan Puasa Bulan Dzulhijjah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 29 Shafar 1441 H / 28 Oktober 2019 M.:



<<SUMBER


Hikmah Qurban - Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail








Beberapa hari lagi seluruh umat Islam di dunia merayakan sebuah perayaan yang agung. Yaitu perayaan Idul Adha. Mengingatkan kepada kita sebuah kisah yang besar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan di dalam Al-Qur’an. Kisah penyembelihan yang agung, penyembelihan yang dilakukan oleh Nabi dan kekasih Allah -yaitu Nabi Ibrahim ‘Alaihish Shalatu was Salam- yang diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anak kesayangannya, anak yang telah ia tunggu bertahun-tahun. Namun ternyata ketika diberikan oleh Allah anak, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya.
Hati siapa yang tidak akan merasa bersedih ketika ia diperintahkan untuk menyembelih anak yang paling ia sayangi? Hati siapa yang tidak akan merasa berat menghadapi perintah yang sangat pahit seperti itu?

Namun itulah saudaraku..
Keimanan yang berbicara, ketundukan dan kepatuhan (taslim) yang sangat sempurna kepada Allah Rabbul Izzati wal Jalalah. Ketika Nabi Ibrahim mengemukakan mimpinya itu kepada anaknya yang bernama Ismail:

إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
“Wahai anakku, aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelih engkau, bagaimana pendapatmu, nak?” (QS. Ash-Shaffat[37]: 102)

Apa jawabannya?
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّـهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahku, lakukan saja apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan mendapati aku insyaAllah termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat[37]: 102)

Subhanallah.. Kisah yang sangat agung, saudaraku.. Ini menggambarkan betapa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah dua Nabi yang sangat tunduk kepada Allah.





Baca Juga : Istiqomah Beribadah Setelah Ramadhan


Ummatal Islam, ...

Allah memerintahkan kita segala macam perintah, semua ujian untuk kita, agar Allah melihat siapa yang mau tunduk kepadaNya dan siapa yang membangkang dan bersombong diri. Terkadang ujian Allah adalah perkara sesuatu yang sangat kita tidak sukai. Yang terkadang seorang hamba dengan ujian-ujian itu timbul di hatinya berburuk sangka kepada Rabbnya. Itulah kadar keimanan dia, saudaraku.


Mari Simak selengkapnya penjelasan mengenai Hikmah Qurban - Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. :




<<SUMBER


Istiqomah Beribadah Setelah Ramadhan

Setelah kita selesai bulan Ramadhan, kita melaksanakan puasa sebulan penuh, segera kita pun melaksanakan puasa berikutnya yaitu puasa Syawal dan amalan-amalan shalih yang lainnya. Dan ini adalah pendapat kebanyakan para ulama tafsir. Dan dua pendapat tersebut sebetulnya tidak bertentangan sama sekali. Karena orang yang mencari dunia tiada lain adalah untuk mencari kehidupan akhirat apabila ia niatkan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seseorang yang mencari nafkah, kalau ia tujuannya adalah untuk mencari nafkah yang Allah wajibkan kepada dia, untuk menafkahi anak dan istrinya maka itu menjadi pahala di sisi allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang yang melakukan perbuatan yang sifatnya duniawi, apabila itu memang tujuannya karena Allah, di jalan Allah dan sesuai dengan syariat Allah, maka itu bernilai ibadah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.



















Baca Juga : Keutamaan bulan sya’ban


Manusia, Allah ciptakan untuk ibadah. Maka kita berusaha untuk berpindah dari satu ibadah kepada ibadah berikutnya. Apabila kita telah selesai dalam ibadah mencari nafkah, kita berusaha mencari ibadah yang lainnya. Yaitu dengan berusaha banyak berdzikir kepada Allah, dengan shalat, dengan membaca Qur’an dan yang lainnya. Apabila kita telah selesai di bulan Ramadhan ini, Alhamdulillah. Dengan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, segera kita bersiap-siap menuju ibadah berikutnya. Yaitu berpuasa di bulan Syawal. Kemudian setelah Syawal, berikutnya kita akan menjelang bulan-bulan haram, Dzulhijjah, Dzulqa’dah dan Muharram. Tiga bulan haram yang sangat mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang sangat diperintahkan kita untuk banyak berbuat kebaikan di dalamnya.



Mari Simak selengkapnya penjelasan mengenai Istiqomah Beribadah Setelah Ramadhan rekaman khutbah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.:



<<SUMBER


Pilihan

Terbaru

TABLIGH AKBAR - MAULID NABI MUHAMMAD ﷺ SAW 1448 H / 2026 M

Sacara ringkes, eusi ieu mangrupa majelis religi nu ngagabungkeun shalawat jeung pangajian pikeun nguatkeun cinta ka Rasullullah ﷺ, semangat...

IMAAM QU'RAN RECITATION ( Sheikh Maher Al Muayqili ByHaramain Recordings )